Tahun ini menandai sembilan tahun perjalanan yang dilindungi dalam bekerja sama dengan komunitas pesisir Tambakrejo, Kota Semarang, untuk mewujudkan upaya penghijauan yang berkelanjutan.
Sejak 2016, penduduk setempat bersama dengan protikihutan telah menunjukkan bahwa kolaborasi jangka panjang mampu menghasilkan dampak sosial, ekonomi dan lingkungan yang signifikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pak Jurami atau akrab bernama Pak Ju, ketua Camar KPL yang telah memimpin masyarakat sejak 2013, mengatakan bahwa keterlibatan penduduk dalam program yang dilindungi dimulai dengan kecemasan tentang abrasi dan erosi yang terus mengikis daerah pesisir.
“Sebagai putra asli, saya merasakan kepercayaan untuk menjaga kota saya. Alhamdulillah, karena Protikihutan hadir, kami dapat bersama -sama menanam bakau dan memulihkan wilayah kami dari ancaman abrasi,” katanya.
Program konservasi yang dijalankan tidak hanya terbatas pada penanaman pohon. Komunitas ini juga diberi pemahaman yang komprehensif tentang manfaat bakau, mulai dari fungsi ekologis hingga potensi ekonomi.
“Mangrove tidak hanya menahan abrasi. Daunnya dapat digunakan sebagai keripik, batangnya bisa pewarna batik. Faktanya, akarnya mendukung pemijahan ikan, yang tentu saja sangat membantu bagi nelayan,” tambah Mr. Ju.
Dengan pendekatan strategis seperti konsep “penanaman segitiga”, program ini tidak hanya mengembalikan lingkungan tetapi juga menggerakkan roda ekonomi.
Para ayah mendapatkan pendapatan tambahan melalui kegiatan penanaman, sementara ibu menggunakan hasil bakau untuk produk olahan. Pendekatan ini telah menciptakan ekosistem pemberdayaan yang holistik dan berkelanjutan.
Sembilan tahun program berjalan, perubahan telah mulai dirasakan. Udara yang dulunya panas dan ekstrem sekarang lebih dingin, dan intensitas air pasang mulai berkurang. Meskipun belum sepenuhnya pulih, sekitar 75% perubahan positif telah dirasakan oleh masyarakat.
“Sekarang ombaknya tidak seanat agresif. Lingkungan kita lebih hijau, lebih nyaman. Kami merasa lebih terlindungi,” kata Mr. Ju.
Salah satu kekuatan perlindungan, menurut Mr. Ju, adalah kemampuannya untuk membangun kolaborasi tanpa membedakan.
“Semua diperlakukan sama. Dari awal hingga akhir, kontribusi yang dilindungi bisa dibilang 90% dari proses pendampingan. Ini berbeda dari banyak program lain yang kadang -kadang hanya datang untuk sementara waktu,” katanya.
Pak Ju berharap bahwa pendekatan berbasis kolaboratif dan komunitas ini dapat ditransmisikan ke daerah lain. “Semoga Protikihutan dapat hadir di tempat -tempat lain yang lebih membutuhkan. Kami telah merasakan manfaatnya, semoga itu bisa menjadi contoh bagi desa -desa lain untuk lebih peduli tentang lingkungan,” pungkasnya.
Tentang dilindungi
Protikihutan adalah start-up lingkungan yang berfokus pada tindakan konservasi hutan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan. Sebanyak 1 juta pohon telah ditanam dengan lebih dari 590 merek dan perusahaan. Kami bekerja sama dengan penduduk setempat di 34 lokasi penanaman yang tersebar di Indonesia. Kami menyajikan beberapa program seperti Corporatree, Collaboratree dengan skema bundling produk, bundling layanan dan mitra proyek, serta program offset karbon.
Siaran pers ini juga telah ditayangkan RakyatPos.id
—
RakyatPos Borneo










