Momentum Hari Buruh, Protikihutan Menyoroti Peran Komunitas untuk Konservasi Lingkungan

- Jurnalis

Senin, 5 Mei 2025 - 15:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Semarang, 2 April 2025 – Dalam peringatan Hari Buruh, masalah ketenagakerjaan tidak hanya berbicara tentang sektor industri, tetapi juga menyentuh kontribusi kelompok kerja akar rumput yang sering lolos dari sorotan, termasuk petani pohon dan pengemudi penghijauan berbasis masyarakat.

Di daerah pesisir Trimulyo, Semarang, sebuah komunitas lokal bernama Tripari memiliki lebih dari satu dekade untuk melakukan inisiatif pelestarian lingkungan dengan menanam ribuan biji bakau. Komunitas ini dipimpin oleh Suswanto (32), yang juga dipanggil, Antok, mantan buruh perusahaan yang sejak 2015 mendedikasikan hidupnya untuk reboisasi.

ADVERTISEMENT

banner

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kerusakan lingkungan di desa kami adalah nyata. Abrasi datang setiap tahun, dan kami melihat pentingnya melakukan sesuatu. Jadi kami mulai menanam bakau dengan penduduk,” kata Antok.

Kegiatan konservasi yang dilakukan oleh komunitas Tripari muncul sebagai tanggapan terhadap krisis lingkungan yang semakin parah di pantai utara Jawa. Menurut data dari Badan Informasi Geospasial (Besar), Jawa Tengah kehilangan hampir 8.000 hektar wilayah pesisir karena abrasi. Tiga daerah yang paling parah yang terkena dampak adalah Brebes Regency (2.391,95 hektar), Demak Regency (2.218,23 hektar), dan Kota Semarang (1.919,57 hektar). Penurunan tanah disertai dengan peningkatan permukaan laut adalah penyebab utama abrasi besar -besaran ini.

Kemitraan antara Tripari dan startup konservasi pelindung dimulai secara organik dan dibentuk dari kebutuhan bersama untuk perlindungan ekosistem. Melalui kerja sama ini, masyarakat mendapatkan akses ke benih, pelatihan, dan bantuan teknis.

“Apa yang menarik tentang konservasi berbasis komunitas adalah keberlanjutan. Mereka tidak datang dan pergi. Mereka tinggal di sana, merawat pohon, dan hidup dengan dampaknya,” kata Aminul Ichsan, ketua Yayasan Protikihutan.

Namun, berbagai tantangan terus membayangi. Proyek Konstruksi Jalan Tol Semarang -Demak dan Normalisasi Sungai pada 2019 menyebabkan bagian dari daerah bakau hilang. “Kami kecewa, tetapi tidak menyerah. Yang penting adalah kami dapat terus menanam di tempat lain,” kata Antok.

Sampai sekarang, komunitas Tripari telah menanam di berbagai zona pesisir trimulyo dan mengembangkan sistem pemantauan independen berbasis warga. Mereka tidak hanya menanam, tetapi juga mengobati, mencatat pertumbuhan pohon, dan melaporkan kerusakan rutin.

Momentum Hari Buruh ditafsirkan sebagai pengingat bahwa pekerja tidak hanya di pabrik, tetapi juga di hutan, di ladang, dan di garis pantai. Mereka mempertahankan keberlanjutan kehidupan kita bersama.

“Kami berharap bahwa lebih banyak partai mengenali peran petani pohon dalam agenda iklim nasional. Mereka adalah aktor penting yang bekerja dalam keheningan,” tambah Ichsan.

Konservasi berbasis komunitas, seperti berjalan oleh Tripari, telah menjadi salah satu model paling adaptif dalam menangani krisis ekologis. Tanpa dukungan dan pengakuan pekerjaan masyarakat seperti ini, ketahanan lingkungan akan sulit untuk disadari.

Tentang dilindungi

Protikihutan adalah start-up lingkungan yang berfokus pada tindakan konservasi hutan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan. Sebanyak 1 juta pohon telah ditanam dengan lebih dari 590 merek dan perusahaan. Kami bekerja sama dengan penduduk setempat di 34 lokasi penanaman yang tersebar di Indonesia. Kami menyajikan beberapa program seperti Corporatree, Collaboratree dengan skema bundling produk, bundling layanan dan mitra proyek, serta program offset karbon.

Siaran pers ini juga telah ditayangkan di RakyatPos.id

RakyatPos Borneo

Berita Terkait

Kuota Haji RI 2026 Tetap 221 Ribu, Jemaah Haji Khusus 17.680
Begini Kondisi Tambang Emas Dekat Mandalika yang Diduga Dikelola WN China, Ada 3 Lubang Menganga
Dukung KPK Usut Dugaan Mark Up di Kereta Cepat Whoosh, DPR: Pelakunya Harus Diseret ke Pengadilan
Masuk Grup WA ‘Mas Menteri Inti’ bersama Nadiem Makarim, Najelaa Shihab memberi penjelasan
Lempar ‘Bom’ di Medsos soal ‘Ramai dan Senyap’, Dasco: Wah, Penasaran
Buruh Mengaku Disiksa Polisi — Pembakaran DPRD Sulsel Ajukan Praperadilan
Dasco Tanggapi Publik soal Postingan ‘Diam Saat Perjuangan – Ramai di Akhir Cerita’, Sindiran Siapa?
PDIP: Soeharto tidak perlu dijadikan pahlawan nasional

Berita Terkait

Rabu, 29 Oktober 2025 - 15:05 WIB

Kuota Haji RI 2026 Tetap 221 Ribu, Jemaah Haji Khusus 17.680

Rabu, 29 Oktober 2025 - 15:05 WIB

Begini Kondisi Tambang Emas Dekat Mandalika yang Diduga Dikelola WN China, Ada 3 Lubang Menganga

Rabu, 29 Oktober 2025 - 15:04 WIB

Dukung KPK Usut Dugaan Mark Up di Kereta Cepat Whoosh, DPR: Pelakunya Harus Diseret ke Pengadilan

Rabu, 29 Oktober 2025 - 15:03 WIB

Masuk Grup WA ‘Mas Menteri Inti’ bersama Nadiem Makarim, Najelaa Shihab memberi penjelasan

Rabu, 29 Oktober 2025 - 15:03 WIB

Lempar ‘Bom’ di Medsos soal ‘Ramai dan Senyap’, Dasco: Wah, Penasaran

Berita Terbaru

Headline

Kuota Haji RI 2026 Tetap 221 Ribu, Jemaah Haji Khusus 17.680

Rabu, 29 Okt 2025 - 15:05 WIB