Baja Nasional, Pertahanan Nasional – RakyatPos.id.com

- Jurnalis

Senin, 2 Juni 2025 - 11:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam forum ISSEI 2025, PT Pindad menekankan pentingnya baja nasional untuk kemerdekaan industri pertahanan melalui presentasi berjudul “Baja Kuat, Pertahanan Tangga, Indonesia Advanced”. Saat ini, kebutuhan baja militer untuk kendaraan tempur dan senjata masih sepenuhnya bergantung pada impor, termasuk spesifikasi tinggi seperti 32crmov12.10. Untuk mengatasi ketergantungan ini, sejak 2025 Pindad telah berkolaborasi dengan PT Krakatau Steel dan Brin untuk mengembangkan baja pertahanan domestik, mulai dari pelat baju besi ke teknologi presisi untuk senjata berat. Upaya ini bertujuan untuk membangun ekosistem pertahanan nasional yang kuat, dengan dampak ekonomi yang besar melalui substitusi impor dan mengembangkan industri hulu hulu. Forum Issei yang diadakan pada 21-22 Mei 2025 menjadi forum strategis -forum -sektoral dalam mendorong hilir baja Indonesia, investasi dan kemandirian pertahanan Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.

Dalam keramaian dan kesibukan forum industri baja terbesar tahun ini, diskusi yang menyentuh pembuluh darah kedaulatan negara itu sebenarnya berasal dari sektor -sektor yang sering luput dari sorotan publik: pertahanan. Dalam salah satu sesi diskusi interaktif di Indonesia Steel Summit & Exhibition Indonesia (ISSEI) 2025, Pt Pindad dilakukan dengan nada langsung – Indonesia membutuhkan baja nasional, tidak hanya untuk pembangunan sipil, tetapi untuk mempertahankan kedaulatan negara.

ADVERTISEMENT

banner

SCROLL TO RESUME CONTENT

Digambarkan oleh Prima Kharisma, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, bahan yang berjudul “Baja Kuat, Pertahanan yang Tangguh, Indonesia Advanced” menekankan satu pesan utama: industri pertahanan nasional tidak akan mandiri jika bahan baku, terutama baja berkualitas tinggi, terus bergantung pada impor.

Ketergantungan Baja Militer

Prima menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh industri peralatan pertahanan domestik. Untuk kebutuhan kendaraan tempur saja, Pindad membutuhkan sekitar 4.000 ton baja baju besi per tahun dan 2.000 ton baja struktural, tetapi hampir semuanya masih diimpor dari luar negeri. Standar kualitas material untuk perlindungan dan presisi tinggi, seperti laras senapan dan tangki, tidak dapat dinegosiasikan.

“Saat ini, baja untuk laras senapan SS2 masih diimpor, menggunakan spesifikasi tinggi seperti 32crmov12.10. Ini tidak dapat diizinkan terus menerus,” jelas Prima.

Hal yang sama terjadi pada pengembangan kendaraan Maung, Anoa Panzer, dan Tiger Tank. “Meskipun kami memiliki peta jalan industri, kami memiliki pasar, kami memiliki teknologi. Tetapi kami tidak dapat maju jika yayasan – adalah bahwa kami masih dibeli dari luar,” katanya.

Langkah Beton: Kolaborasi dan Peta Jalan

Untuk menjawab masalahnya, Pt Pindad tidak tetap diam. Sejak 2025, perusahaan telah memulai kolaborasi dengan PT Krakatau Steel (Persero) TBK dan Brin untuk mengembangkan baja pertahanan domestik. Tahap awal fokus pada pelat baju besi untuk kendaraan ringan dan sedang.

Rencana jangka menengah hingga 2031 meliputi pembangunan pabrik bahan baku senapan, pengembangan billet baja spesifikasi militer, serta teknologi pembentukan baja presisi tinggi untuk amunisi kaliber besar dan sistem senjata berat.

Upaya ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan Pindad, tetapi juga membuka jalan bagi ekosistem pertahanan nasional yang independen dan kompetitif.

Ekonomi dan Teknologi Efek Berbagai

Dampaknya tidak hanya di sektor militer. Prima menjelaskan bahwa pengembangan baja pertahanan juga membuka peluang ekonomi yang besar. “Selama lima tahun ke depan, kebutuhan kendaraan dan amunisi TNI diproyeksikan mencapai RP122 triliun. Jika kita dapat bertemu 30-40 persen dengan komponen domestik, dampaknya luar biasa,” katanya.

Efek berganda lainnya adalah kebangkitan industri hulu-hulu: dari pembuatan cetakan logam, pelapis, hingga rekayasa metalurgi canggih. Belum lagi dalam hal penguasaan teknologi strategis yang dapat menempatkan Indonesia sebagai produsen peralatan pertahanan regional.

ISSEI 2025: Platform Strategis

Sesi ini adalah bagian dari diskusi interaktif di ISSEI 2025 dan dipandu oleh Ketua Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), Akbar Djan yang juga merupakan Direktur Presiden PT Krakatau Steel (Persero) TBK. Forum ini menyatukan pemerintah, pemain industri baja, dan sektor pengguna seperti pertahanan, maritim, dan energi.

Issei 2025 diadakan selama dua hari, 21-22 Mei 2025, di Jakarta Convention Center. Acara ini adalah hasil dari kolaborasi strategis antara IISIA dan Organisasi Regional Seaisi (Institut Besi dan Baja Asia Tenggara). Tahun ini, Issei membawa semangat “baja nasional, daya saing regional”, dengan fokus pada hilir, investasi berkelanjutan, transformasi hijau, dan kerja sama lintas negara di tengah -tengah tekanan geopolitik global.

Lebih dari 150 peserta pameran berpartisipasi, dengan ribuan pengunjung dari profesional industri, akademisi, investor, dan pejabat pemerintah. ISSEI 2025 bukan hanya tahap bisnis teknologi dan baja, tetapi juga forum strategis untuk membangun fondasi kemandirian ekonomi dan pertahanan Indonesia ke depan.

Tentang Krakatau Steel TBK

Pt Krakatau Steel (Persero) TBK adalah perusahaan yang dimiliki negara bagian (BUMM) yang terlibat dalam produksi baja dan beroperasi di Cilegon, Banten. Didirikan pada tahun 1970 sebagai kelanjutan dari Proyek Besi Trikora Steel yang diprakarsai oleh Presiden Soekarno, perusahaan memulai produksi pipa spiral pada tahun 1973 dan terus mengembangkan kualitas produk dengan memperoleh berbagai sertifikasi internasional seperti API 5L, BC1, ISO 9001, ISO 14001, ISO 17025, dan sistem manajemen keamanan dari kepolisian nasional. Pada 2010, Krakatau Steel melakukan penawaran umum perdana (IPO) dan secara resmi menjadi perusahaan publik dengan Kode Saham KRAS di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan berkomitmen untuk menjalankan bisnis secara profesional dengan prinsip -prinsip tata kelola yang baik, dan terus berinvestasi untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi.

Hingga akhir 2022, Krakatau Steel memiliki kapasitas produksi 4 juta ton per tahun, dengan produk -produk unggul seperti baja lembaran panas, baja lembaran dingin, dan baja baja kawat. Melalui anak perusahaannya, perusahaan juga memproduksi pipa baja spiral, pipa baja ERW, baja tulangan, dan baja profil untuk kebutuhan industri dan konstruksi minyak dan gas. Selain produksi baja, baja Krakatau mengembangkan fasilitas pendukung seperti pelabuhan, pasokan air industri, dan pembangkit listrik untuk menciptakan ekosistem industri baja terintegrasi. Dengan kekuatan infrastruktur dan kualitas produk, Krakatau Steel tidak hanya mendominasi pasar domestik, tetapi juga diyakini sebagai mitra ekspor oleh perusahaan asing, untuk memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam industri baja regional dan global.



RakyatPos Borneo

Berita Terkait

Kuota Haji RI 2026 Tetap 221 Ribu, Jemaah Haji Khusus 17.680
Begini Kondisi Tambang Emas Dekat Mandalika yang Diduga Dikelola WN China, Ada 3 Lubang Menganga
Dukung KPK Usut Dugaan Mark Up di Kereta Cepat Whoosh, DPR: Pelakunya Harus Diseret ke Pengadilan
Masuk Grup WA ‘Mas Menteri Inti’ bersama Nadiem Makarim, Najelaa Shihab memberi penjelasan
Lempar ‘Bom’ di Medsos soal ‘Ramai dan Senyap’, Dasco: Wah, Penasaran
Buruh Mengaku Disiksa Polisi — Pembakaran DPRD Sulsel Ajukan Praperadilan
Dasco Tanggapi Publik soal Postingan ‘Diam Saat Perjuangan – Ramai di Akhir Cerita’, Sindiran Siapa?
PDIP: Soeharto tidak perlu dijadikan pahlawan nasional

Berita Terkait

Rabu, 29 Oktober 2025 - 15:05 WIB

Kuota Haji RI 2026 Tetap 221 Ribu, Jemaah Haji Khusus 17.680

Rabu, 29 Oktober 2025 - 15:05 WIB

Begini Kondisi Tambang Emas Dekat Mandalika yang Diduga Dikelola WN China, Ada 3 Lubang Menganga

Rabu, 29 Oktober 2025 - 15:04 WIB

Dukung KPK Usut Dugaan Mark Up di Kereta Cepat Whoosh, DPR: Pelakunya Harus Diseret ke Pengadilan

Rabu, 29 Oktober 2025 - 15:03 WIB

Masuk Grup WA ‘Mas Menteri Inti’ bersama Nadiem Makarim, Najelaa Shihab memberi penjelasan

Rabu, 29 Oktober 2025 - 15:03 WIB

Lempar ‘Bom’ di Medsos soal ‘Ramai dan Senyap’, Dasco: Wah, Penasaran

Berita Terbaru

Headline

Kuota Haji RI 2026 Tetap 221 Ribu, Jemaah Haji Khusus 17.680

Rabu, 29 Okt 2025 - 15:05 WIB