Dalam upaya untuk membangun sistem transportasi umum yang terintegrasi dan efisien, kelompok Kai terus mengembangkan peran strategis kereta bandara sebagai penghubung antara jaringan kereta api dan mode udara. Layanan ini bukan hanya masalah perjalanan cepat ke bandara, tetapi tentang cara membangun konektivitas nasional yang produktif dan berkelanjutan.
Wakil Presiden Hubungan Masyarakat Kai Anne Purba mengatakan bahwa kereta bandara hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat modern yang memprioritaskan efisiensi waktu, menjadwalkan kepastian, dan kenyamanan dalam mobilitas ke dan dari bandara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kereta bandara bukan hanya layanan antar-jemput, tetapi bagian dari ekosistem mobilitas yang mendorong orang untuk pindah dari transportasi berbasis kendaraan pribadi ke transportasi massal yang lebih ramah lingkungan,” kata Anne.
Salah satu pencapaian yang paling mencolok dapat dilihat dari kinerja Bandara Internasional Adi SoemarMo (Bias) yang mencatat lonjakan volume penumpang hingga 492%. Jika pada periode Januari -April 2024 ada 39.129 pelanggan, maka pada periode yang sama tahun ini jumlahnya ditembak menjadi 231.450 pelanggan. Ini menunjukkan akselerasi luar biasa dalam adaptasi publik ke mode terintegrasi. Lonjakan ini tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan perpanjangan hubungan layanan dan integrasi mode penguatan yang diprakarsai dengan Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA) dari Kementerian Transportasi sebagai bentuk konkret Sinergi Bumn dan Pemerintah.
Kinerja positif juga terlihat di Sumatra Selatan LRT, yang menghubungkan bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dengan stasiun DJKA (Depot Jakabaring) melalui 13 stasiun. Selama Januari -April 2025, LRT ini telah melayani 1.462.303 penumpang, naik 9,7% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024 dari 1.332.201 penumpang. Layanan ini adalah tulang punggung konektivitas kota Palembang.
Sementara itu, Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) dan Yia Ekspres melatih layanan juga mengalami peningkatan pelanggan sebesar 5,4%, dari 843.056 pada bulan Januari -April 2024 menjadi 888.653 pelanggan pada tahun 2025. Angka ini mencerminkan minat publik yang stabil dalam mode kereta sebagai akses utama ke YIA.
Di wilayah Sumatra Barat, kereta Minangkabau Express yang melayani hubungan Pulau Air -bim, masih menunjukkan tren positif. Selama Januari -April 2025, jumlah pelanggan mencatat 102.315, meningkat dari 101.473 pelanggan pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan Anai Lembah Railway mencatat 34.348 penumpang pada tahun 2025, sambil menyediakan layanan pengumpan gratis dari stasiun Duku ke bandara, memperkuat aksesibilitas orang di luar kota.
“Fasilitas pengumpan gratis adalah insentif yang sangat membantu, terutama bagi penumpang dari area aglomerasi. Ini adalah bagian dari pendekatan inklusif kami dalam merancang layanan,” kata Anne.
Di Sumatra Utara, Ka Srilelawangsa yang merupakan layanan kereta bandara dari Medan ke Bandara Internasional Kuqualanamu melalui Binjai, menunjukkan kinerja yang sangat positif. Volume penumpang meningkat 17,3%, dari 730.510 pada bulan Januari -April 2024 menjadi 857.113 penumpang pada periode yang sama tahun ini. Kereta ini adalah bukti yang jelas bahwa konektivitas regional ke bandara tidak selalu harus berangkat dari pusat kota, tetapi dapat komprehensif dari daerah sekitarnya.
Sementara itu, Bandara Soekarno-Hatta Commuter Line tetap menjadi alternatif yang dapat diandalkan untuk komunitas Jabodetabek. Selama Januari -April 2025, layanan ini mencatat 705.255 pelanggan, yang mencerminkan kontribusi penting dalam mengurangi beban lalu lintas tanah ke bandara tersibuk di Indonesia.
Dari kinerja keseluruhan kereta bandara yang direkam, dapat disimpulkan bahwa tren penggunaannya terus memperkuat di tengah peningkatan kesadaran publik tentang pentingnya moda transportasi yang terintegrasi. Kai tidak hanya menghubungkan titik A ke titik B, tetapi juga menjembatani kebutuhan dan harapan masyarakat untuk mobilitas adaptif, cerdas, dan masa depan.
“Integrasi mode adalah jantung dari sistem transportasi modern dan kereta bandara adalah denyut nadi. Konektivitas, efisiensi, dan pengalaman perjalanan yang lebih baik untuk semua,” pungkas Anne.
Siaran pers ini juga telah ditayangkan di RakyatPos.id
RakyatPos Borneo










