Java Barat PR
– Seorang turis dari Tangerang Selatan, Kumalasari, berbagi pengalamannya yang mengecewakan saat berlibur ke Bandung, Jawa Barat. Dia mengaku diminta untuk membayar tarif yang tidak pantas setelah mengendarai turis Delman bersama keluarganya.
Perjanjian Harga Pertama adalah IDR 200 ribu, tetapi diminta untuk membayar IDR 600 ribu
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peristiwa itu terjadi ketika Kumalasari dan keluarga mereka berisi lima anggota yang bermaksud mengendarai Delmans di daerah pariwisata Bandung. Berdasarkan penjelasan, itu disetujui dengan biaya RP. 200 ribu dengan pelatih Delman di awal petualangan ini. Tetapi setelah mencapai tujuan, tiba -tiba pengemudi menginginkan pembayaran RP. 600 ribu.
Dalam posting videonya di akun media sosialnya, Kumalasari menyatakan ketidakpuasannya dengan tindakan yang ia alami. “Kami mengambil Delman dan ada lima penumpang, katanya dengan dua ratus ribu saudara. Ternyata ketika dia membayar enam ratus ribu,” keluhannya dapat dilihat dalam klip selama 31 detik yang dengan cepat menjadi percakapan hangat di jejaring sosial.
Pilih untuk membayar IDR 500 ribu untuk menghindari perselisihan
Meskipun dia kecewa, Kumalasari memutuskan untuk memberikan jumlah Rp500 ribu untuk menghindari perselisihan atau pertengkaran di depan umum. “Ya, saya baru saja memberikan Rp ini. 500 ribu, itu tidak sesuai dengan perjanjian,” katanya.
Pos itu segera mendapat perhatian dari masyarakat umum. Banyak pengguna media sosial merasa marah pada insiden itu dan mengutuk tindakan terbuka yang diambil oleh penyedia layanan pariwisata.
Penduduk media sosial menuntut pemantauan dan tolok ukur harga untuk wisatawan
Tanggapan publik sangat bervariasi, tetapi kebanyakan orang meratifikasi ketidakefektifan pengawasan penyedia layanan pariwisata lokal seperti pelatih Delman. Ada juga orang yang mendorong pemerintah atau kantor pariwisata regional untuk bertindak dengan cepat.
“Harus ada tarif atau tanda standar sehingga tidak ada yang menetapkan harga secara sewenang -wenang,” komentar seorang pengguna internet. Di sisi lain, warga negara lain merasa bahwa insiden itu dapat menodai reputasi pariwisata Bandung sebagai kota yang komprehensif.
Insiden seperti ini telah dialami di beberapa tempat wisata lainnya
Peristiwa semacam itu telah diulangi di banyak tujuan pariwisata di Indonesia, misalnya, petugas parkir atau pengemudi transportasi wisata yang menggunakan tarif tinggi untuk wisatawan lokal dan internasional. Insiden ini menciptakan ketidaknyamanan tambahan, apalagi ini dapat mencegah wisatawan kembali ke tempat -tempat ini.
Di sejumlah kota pariwisata, upaya telah dilakukan untuk menerapkan tarif standar melalui peraturan regional atau kolaborasi dengan masyarakat setempat. Namun, dalam implementasinya di lapangan, ini kadang -kadang tidak optimal karena pengawasan yang memadai atau keberadaan partai -partai yang tidak bertanggung jawab yang bermain.
Pendidikan dan sertifikasi diperlukan untuk pemain industri wisata
Pakar pariwisata mengusulkan pentingnya pendidikan rutin dan pelatihan bagi mereka yang terlibat dalam pariwisata sehingga mereka dapat memberikan layanan kualitas dan transparan terbaik. Tidak hanya itu, sejumlah bidang juga telah memulai program sertifikasi untuk pengemudi taksi tradisional, Delmans, dan pedoman lokal.
Berikut adalah beberapa langkah yang dianggap penting dalam meningkatkan kepercayaan wisata dan memastikan bahwa perjalanan mereka di Indonesia menjadi menyenangkan dan tak terlupakan. Jika industri pariwisata bisa lebih jujur dan lebih hangat bagi para tamunya, pengaruhnya terhadap ekonomi juga akan lebih adil dan berkelanjutan.
Jaringan RakyatPos.id.com
—
RakyatPos Borneo










